![]() |
| Ilustrasi oleh AI |
Aku Pernah, Mungkin
Aku berjalan di atas tanah yang tak bernama,
di mana angin berhembus, tapi tak pernah menyapa
Pohon-pohon berdiri, tak berakar,
daunnya gugur ke langit,
seolah bumi tak sanggup lagi menampungnya
Ada suara dari balik bukit yang redup—
bukan suara, tapi ingatan yang tak selesai
Barangkali aku pernah ada,
atau sedang bermimpi menjadi seseorang
Langit terbuka seperti luka,
dan cahaya jatuh terlalu perlahan
untuk disebut pagi
Sementara bayangku sendiri
menolak kembali ke kakiku
Aku duduk di batu yang dingin,
menunggu sesuatu yang tak kukenal
Bukan keselamatan,
bukan juga akhir
Hanya kehadiran
yang tak membuatku merasa sendirian
Mereka bilang,
“Air mata adalah doa yang gagal”
Tapi aku menangis untuk langit,
untuk batu,
untuk sehelai bulu burung
yang tertinggal di sela jari
Dan saat malam datang tanpa suara,
aku tahu:
bukan maut yang paling kutakuti,
melainkan hidup yang terus berjalan
tanpa pernah menoleh padaku.
---
![]() |
| Ilustrasi oleh AI |
Menjadi Tidak
Pagi datang, mengetuk kaca jendela
dengan cahaya yang enggan
Di kamar ini—
langit tak pernah benar-benar biru,
dan suara burung terdengar seperti kabar
yang terlalu jauh berderu
Ada cermin di sudut ruangan
yang tak lagi memantulkan apa pun
Bayanganku memilih duduk
di kursi lain,
membaca buku yang usang berdebu
Aku menyeduh teh yang tak hangat
dan membiarkannya dingin,
seperti pesan suara yang tak pernah kukirim
Jam di dinding berdetak,
tapi rasanya ia hanya berputar
untuk dirinya sendiri
Seseorang di luar tertawa
Suara itu masuk menembus dinding tipis,
seperti sinar yang tak bisa menghangatkan
Dan aku berpikir—
apakah tawa bisa bocor seperti air,
sementara kesedihan
selalu tahu cara tinggal di dalam?
Hari itu aku membuka jendela,
bukan untuk menghirup udara,
tapi agar aku bisa mendengar
bahwa dunia masih berjalan,
meski langkahku tak pernah keluar.
Penulis : Meysa Afriska Dewi, Mahasiswa Prodi HES




Posting Komentar