![]() |
| Potret Kebersamaan HES 23C di Yogyakarta |
Ada sebuah kota yang dibangun bukan hanya dari susunan bata dan semen, melainkan dari potongan doa dan sisa-sisa kenangan yang tertinggal di setiap sudut jalannya. Kota itu adalah Yogyakarta. Dan bagi kami, HES 23C, Jogja bukan sekadar destinasi; ia adalah ruang tunggu di mana persahabatan kami mekar lebih ranum.
Dini hari itu, udara Bojonegoro terasa lebih dingin dari biasanya. Di pelataran parkir terminal kota yang masih remang, sebuah mesin elf menderu halus, membelah keheningan. Di dalamnya, kami—keluarga kecil HES 23C—duduk berhimpitan dengan ransel yang sesak. Ransel itu tidak hanya berisi pakaian, tetapi juga tumpukan harapan sederhana: tentang tawa yang ingin dilepaskan, tentang penat yang ingin ditinggalkan, dan tentang sebuah ikatan yang ingin dikukuhkan.
"Semoga di Jogja nanti hujan tidak menghalangi cerita kita, ya," bisik Salma sambil menatap kaca jendela yang mulai berembun.
Kami semua terdiam, mengamini doa itu dalam hati. Perjalanan pun dimulai. Roda-roda elf berputar membelah aspal menuju jantung Jawa, membawa para pengelana yang sedang mencari arti kebersamaan di luar diktum hukum dan barisan pasal syariah.
"Kita lupakan dulu revisi jurnal, mari kita rayakan hari ini!" seru Fauji, disambut sorak setuju seisi elf.
Yogyakarta menyambut kami dengan cahaya keemasan di ufuk timur. Tujuan pertama kami adalah Pasar Ngasem. Suasana pagi di sana terasa begitu hidup; suara riuh rendah pedagang beradu dengan kepulan asap sisa pembakaran sate dan wanginya aroma soto. Kami berjalan di antara deretan los pasar yang beraroma rempah dan kopi.
Beberapa dari kami sibuk mencicipi sate yang disiram saus kacang, sementara yang lain asyik bercengkerama dengan simbah penjual bubur yang tersenyum tulus. Di Pasar Ngasem, kami belajar bahwa kebahagiaan tidak melulu soal kemewahan, tapi tentang kesederhanaan yang dibagikan.
"Ini rasanya seperti pulang ke rumah nenek," seloroh Lia sambil mengunyah gethuk yang hangat. Di pasar tua ini, persahabatan HES 23C mulai merajut simpulnya yang pertama.
Ada saat-saat di mana kami hanya terdiam, menatap senja yang perlahan tenggelam di balik tebing pantai atau riuhnya ombak. Di saat itulah kami sadar, bahwa waktu adalah pencuri yang paling ulung. Namun, di Jogja, kami berhasil mencuri balik waktu itu untuk menciptakan memori yang abadi.
"Rasanya aku ingin menghentikan waktu sebentar saja di sini. Lihatlah gagahnya Merapi itu, sungguh ciptaan Tuhan yang sangat indah," gumamku saat kami berkumpul di sudut Warung Kopi Merapi.
Percakapan-percakapan kecil, saling berbagi bahu saat kelelahan, hingga tatapan mata yang penuh arti; semua itu adalah tinta emas yang mengukir sejarah kelas kita.
Deru mesin elf memenuhi telinga, seolah ingin bercerita kepada langit bahwa di sini, di bawah naungan istimewanya Jogja, ada sekumpulan jiwa yang sedang belajar mencintai perjalanan lebih dari sekadar tujuan.
Menjelang malam, Jogja menyapa dengan wajah yang berbeda. Aroma bakpia yang hangat dan suara dawai musisi jalanan di Malioboro seolah memanggil kami. Di bawah temaram lampu kota, kami menyusuri trotoar yang padat. Tidak ada lagi sekat; yang ada hanyalah sajak yang tertulis di setiap langkah kaki kami.
"Jalan pelan saja, aku ingin menyimpan suasana ini lebih lama," ujar Devi sembari membidikkan kamera ke arah kerumunan.
Bagi kami, Malioboro bukan sekadar tempat belanja, tapi panggung di mana setiap tawa kami menjadi bait puisi yang abadi.
Setelah lelah menyusuri setiap jengkal Malioboro, kami kembali ke vila tempat kami menginap. Suasana berubah menjadi lebih intim. Di ruang tengah yang luas, kami duduk melingkar di atas karpet tipis, mengabaikan hawa dingin yang menyelinap dari balik jendela. Tidak ada lagi ponsel di tangan; yang ada hanyalah cerita yang mengalir jujur.
Kami berbagi makanan yang dimasak sepulang dari Malioboro dan camilan sisa perjalanan, sambil menertawakan kejadian lucu sepanjang hari. Di vila inilah, diskusi kami beralih dari materi perkuliahan menjadi curahan hati tentang masa depan dan mimpi-mimpi.
"HES 23C bukan cuma nama kelas buatku. Kalian sudah jadi keluarga. Terus seperti ini ya?" ucap Laili lirih, memicu suasana haru yang hangat. Di bawah atap vila itu, kami menyadari bahwa momen-momen "tidak penting" seperti inilah yang justru paling kuat merekatkan hati.
Kini, perjalanan telah usai. Mesin elf membawa kami pulang meninggalkan bayang-bayang Tugu Jogja yang mulai menjauh. Namun, kami tidak pulang dengan tangan kosong. Kami pulang dengan hati yang lebih penuh, dengan ingatan yang lebih berwarna, dan dengan rasa sayang yang lebih dalam.
"Kapan kita agendakan perjalanan seperti ini lagi?" Pertanyaan itu menutup perjalanan kami, menyisakan sebuah harapan baru.
Yogyakarta mungkin tertinggal di belakang, tetapi cerita tentang HES 23C dan Kota Istimewa akan selalu punya satu bab khusus di dalam hati kami. Karena pada akhirnya, bukan ke mana kita pergi yang utama, melainkan dengan siapa kita berbagi langkah.
Katanya, setiap sudut Yogyakarta punya cerita. Ternyata benar, pulang dari Jogja tidak hanya membawa buah tangan, tetapi membawa rindu yang sengaja dititipkan di sela-sela Malioboro.
Penulis: Melyza Wilda Aulia, Mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah yang gemar berkelana mencari caffeine dan pantai



Posting Komentar