Arusgiri.com, Bojonegoro – Silaturahmi yang dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pintar Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro Kelompok 42 pada Kamis, (30/07) membuka potret kehidupan keagamaan masyarakat Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, yang hingga kini masih terjaga dengan kuat. Berbagai tradisi keislaman yang diwariskan secara turun-temurun terus dilaksanakan secara rutin dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
![]() |
| Silaturahmi ke Ketua Muslimat Desa Turi (Foto: Adib) |
Kunjungan tersebut dilakukan ke sejumlah tokoh masyarakat, mulai dari perangkat desa, Ketua Muslimat, hingga tokoh agama dan pengasuh lembaga pendidikan Al-Qur’an. Dari silaturahmi tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai kehidupan religius masyarakat yang berjalan beriringan dengan aktivitas sosial kemasyarakatan.
Ketua Muslimat Desa Turi, Wari Eka Sari, menuturkan bahwa semangat pengabdian dan kesabaran menjadi modal utama dalam menjaga kegiatan keagamaan di tengah masyarakat. Selama tiga periode memimpin Muslimat Desa Turi, ia merasakan bahwa mengabdi kepada masyarakat membutuhkan ketulusan dan kesabaran yang panjang.
“Kalau niatnya mengabdi untuk agama, hatinya harus sabar. Banyak kebaikan yang kadang tidak terlihat, tetapi ketika ada sedikit kesalahan justru itu yang lebih mudah terlihat,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi keagamaan di Desa Turi masih berjalan aktif dan melibatkan berbagai kalangan masyarakat. Kegiatan tersebut di antaranya istigasah Ahad Pahing yang rutin dilaksanakan, khatmil Al-Qur’an triwulanan, Rotibul Haddad setiap selapanan, serta tahlilan ibu-ibu yang digelar setiap malam Jumat selepas salat Magrib.
Tradisi tersebut tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga. Melalui kegiatan keagamaan, masyarakat membangun kebersamaan sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman yang telah lama tumbuh di desa.
Kehidupan religius masyarakat juga tercermin dari keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an di Desa Turi. Salah satu tokoh yang berperan besar dalam bidang tersebut adalah Rokhim, pengasuh TPQ yang telah berdiri sejak tahun 2002.
Selama lebih dari dua dekade, TPQ tersebut menjadi tempat belajar membaca dan memahami Al-Qur’an bagi anak-anak di Desa Turi. Hingga kini, kegiatan mengaji masih berlangsung setiap hari dan hanya libur pada hari Jumat.
“TPQ ini kami dirikan sejak tahun 2002 dan sampai sekarang masih berjalan. Tantangan terbesar saat ini adalah mencari ustaz dan ustazah. Banyak yang setelah menikah mengikuti pasangan dan pindah ke daerah lain,” tutur Rokhim.
Meski demikian, semangat belajar para santri tetap tinggi. Ia menyebutkan bahwa sebagian besar santri yang berhasil menyelesaikan pembelajaran hingga khatam Al-Qur’an berasal dari kalangan perempuan.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi desa, keberlangsungan pendidikan agama dan tradisi keagamaan menjadi salah satu kekuatan masyarakat Desa Turi. Aktivitas tersebut tidak hanya membentuk karakter generasi muda, tetapi juga menjaga nilai kebersamaan yang telah lama hidup di tengah warga.
Bagi mahasiswa KKN, silaturahmi tersebut menjadi pengalaman berharga untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat desa. Mereka tidak hanya menemukan berbagai tradisi yang masih lestari, tetapi juga belajar mengenai arti pengabdian, keteladanan, dan semangat menjaga nilai-nilai keagamaan di tengah perubahan zaman.
Melalui pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat, mahasiswa melihat bahwa tradisi keagamaan bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian penting dari identitas masyarakat Desa Turi yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Penulis: Meysa Afriska Dewi



Posting Komentar