mJHEzxukdj31fhzMIHmiGai4Yfakiv2Yjgl83GlR
Bookmark

Perdalam Seni Menulis Feature, Tekankan Pentingnya Observasi dan Kepekaan Menangkap Cerita

Arusgiri.com, Bojonegoro – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arusgiri Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro gelar Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) bertema “Menelisik Fakta, Menulis Perubahan: Membangun Jurnalis Muda yang Kritis dan Adaptif di Era Digital” di Ruang Smartclass Unugiri pada Senin, (29/06). Pada sesi terakhir, peserta mendapatkan materi Seni Menulis Feature yang disampaikan oleh Nanang Fahrudin.

Nanang Fahrudin dalam penyampaian materi feature (Foto: Maryam)

Dalam pemaparannya, Nanang menegaskan bahwa kemampuan menulis tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan membaca. Menurutnya, membaca tulisan-tulisan berkualitas menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengasah kemampuan menulis sekaligus memperkaya gaya bertutur seorang jurnalis.

"Salah satu hal yang paling penting dari menulis adalah membaca tulisan yang bagus. Kita bisa belajar menulis dari membaca karya-karya penulis yang sudah berpengalaman," ujarnya.

Ia juga menyarankan peserta untuk membiasakan diri membaca media yang konsisten menyajikan tulisan feature berkualitas, salah satunya melalui rubrik feature di harian Kompas yang terbit setiap akhir pekan.

Pada kesempatan tersebut, Nanang menjelaskan bahwa feature merupakan karya jurnalistik nonfiksi yang menyajikan fakta dengan pendekatan naratif sehingga mampu membawa pembaca masuk ke dalam suasana sebuah peristiwa. Ia menyebutkan terdapat empat karakter utama dalam tulisan feature, yakni faktual, mengandung nilai human interest, bersifat timeless, dan memberi ruang bagi penulis menghadirkan warna dalam penyampaian cerita.

Lebih lanjut, ia menguraikan anatomi tulisan feature yang terdiri atas lead, body, dan ending. Menurutnya, bagian pembuka atau lead memiliki peran penting dalam menarik perhatian pembaca sehingga sebaiknya tidak diawali dengan kalimat penjelasan yang monoton.

“Dalam feature jangan biasakan kalimat pertama menjadi kalimat penjelas. Ajak pembaca langsung masuk ke suasana melalui deskripsi, pertanyaan, atau kutipan yang menarik,” jelasnya.

Nanang juga memaparkan tahapan menyusun tulisan feature, dimulai dari observasi, riset dan pengumpulan data, penyusunan draf (drafting), hingga proses penyuntingan (editing). Ia menekankan bahwa observasi merupakan tahap penting karena penulis harus peka menangkap detail-detail menarik di lapangan dan segera mencatatnya agar tidak terlupakan.

Pada tahap penyusunan naskah, peserta diperkenalkan dengan teknik show, don't tell, yaitu menggambarkan suasana melalui tindakan atau detail yang terlihat, bukan sekadar menyimpulkan keadaan.

“Feature mengandalkan gambaran suasana. Tunjukkan apa yang terjadi agar pembaca dapat merasakan sendiri emosi dari cerita yang disampaikan,” ungkapnya.

Selain itu, ia membagikan beberapa tips praktis dalam menulis feature, seperti memanfaatkan detail indrawi, memvariasikan panjang kalimat agar ritme tulisan lebih hidup, serta menjaga fokus pada satu tema sehingga cerita tetap runtut dan mudah dipahami.

Nanang juga menjelaskan perbedaan antara feature sosok dan feature umum. Feature sosok berfokus pada manusia, karakter, serta perjalanan hidup narasumber, sedangkan feature umum lebih menitikberatkan pada objek, fenomena, atau suatu peristiwa yang memberikan wawasan kepada pembaca.

Menutup sesi, Nanang mengingatkan bahwa kemampuan menulis merupakan keterampilan yang harus terus dilatih melalui proses membaca, mengamati, menulis, dan mengedit secara konsisten.

“Menulis yang runtut membutuhkan keterampilan. Semakin sering membaca tulisan yang baik dan terus berlatih, kemampuan menulis akan berkembang dengan sendirinya,” pungkasnya.


Penulis: Windiyanti Laily, Meysa Afriska Dewi

Posting Komentar

Posting Komentar