Arusgiri.com, Bojonegoro – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arusgiri Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro menghadirkan materi Teknik Menulis Opini dalam rangkaian Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) bertema “Menelisik Fakta, Menulis Perubahan: Membangun Jurnalis Muda yang Kritis dan Adaptif di Era Digital” di Ruang Smartclass Unugiri pada Senin, (29/6). Materi pertama disampaikan oleh Usman Roin yang membekali peserta mengenai cara menyusun tulisan opini yang layak dipublikasikan di media massa.
![]() |
| Usman Roin dalam pemaparan materi penulisan opini. (Foto: Maryam) |
Dalam pemaparannya, Usman menjelaskan bahwa opini merupakan tulisan yang berisi gagasan, pendapat, maupun pernyataan penulis terhadap suatu persoalan aktual untuk dipublikasikan melalui media massa. Menurutnya, sebuah opini tidak hanya menyampaikan pandangan pribadi, tetapi juga harus mampu memberikan sudut pandang baru dan solusi atas permasalahan yang sedang menjadi perhatian publik.
Ia mengawali materi dengan mengajak peserta mengamati berbagai isu yang sedang ramai diperbincangkan sebagai bahan latihan menentukan topik opini. Beberapa contoh yang diangkat di antaranya kasus Makan Bergizi Gratis (MBG), penyekapan seorang pemuda selama tiga tahun, isu aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang menerima amplop dari Wakil Presiden, hingga penyelenggaraan Piala Dunia. Dari berbagai isu tersebut, peserta diminta mengidentifikasi nilai penting, permasalahan, serta solusi yang dapat dikembangkan menjadi sebuah tulisan opini.
Menurut Usman, tidak semua isu layak dijadikan opini. Sebuah tulisan akan memiliki nilai lebih apabila mengandung unsur penting, berdampak luas bagi masyarakat, aktual, memiliki kedekatan dengan pembaca, melibatkan tokoh yang dikenal publik, memuat sisi kemanusiaan (human interest), serta menawarkan sudut pandang yang unik dan menarik.
“Ketika memilih topik, jangan hanya melihat isu yang sedang ramai. Carilah nilai pentingnya, persoalan yang ingin dibahas, dan solusi yang bisa ditawarkan kepada masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Usman memaparkan bahwa tulisan opini memiliki sejumlah fungsi, baik bagi pembaca maupun penulis. Dari sisi komunikasi, opini menjadi sarana menyampaikan gagasan kepada publik. Dari sisi persuasif, opini dapat memengaruhi cara pandang pembaca sekaligus mendorong lahirnya solusi maupun tindakan nyata. Sementara bagi penulis, opini menjadi media untuk membangun keahlian berpikir kritis serta sebagai bentuk katarsis atau penyaluran gagasan dan emosi secara konstruktif.
Dalam penyusunan naskah, Usman menjelaskan bahwa opini memiliki struktur yang terdiri atas lead, body, dan ending. Bagian pembuka harus mampu menarik perhatian pembaca sejak awal, sedangkan isi tulisan perlu diperkuat dengan data dan referensi yang relevan. Menurutnya, seluruh rujukan sebaiknya ditempatkan pada bagian pembahasan (body) menggunakan body note, bukan pada bagian penutup.
“Lead itu seperti teras rumah. Kalau terasnya menarik, orang akan senang untuk masuk dan membaca keseluruhan isi tulisan,” ungkapnya.
Selain membahas struktur penulisan, Usman juga memberikan penjelasan mengenai ketentuan teknis penulisan opini yang umumnya diterapkan media massa. Ia menyebutkan bahwa panjang tulisan berkisar 700 kata atau sekitar 5.261 karakter, diketik menggunakan huruf Times New Roman, spasi 1,5, sepanjang dua halaman ukuran A4, serta dilengkapi foto berformat landscape.
Usman menekankan bahwa bahasa dalam tulisan opini tidak harus kaku seperti karya ilmiah. Sebaliknya, penulis dianjurkan menggunakan gaya bertutur yang komunikatif dengan pilihan diksi yang sederhana agar mudah dipahami oleh masyarakat luas.
“Opini ditulis untuk masyarakat. Karena itu gunakan bahasa yang mudah dipahami, jangan mempersulit pembaca dengan istilah-istilah yang terlalu rumit,” ujarnya.
Di akhir sesi, Usman turut menjelaskan bagaimana proses penyuntingan naskah dilakukan oleh editor media. Ia mengatakan bahwa editor memiliki kewenangan untuk memperbaiki pilihan kata yang dinilai kurang tepat, termasuk mengganti diksi yang terlalu kasar menjadi lebih santun tanpa mengubah substansi tulisan.
Salah satu peserta, Shaula Kayla Nurainingsih mengaku mendapat banyak wawasan baru terkait penulisan opini. “Penyampaian materi benar-benar menarik, kita di awal materi sudah langsung diajak praktik. Saya jadi mudah memahami materi yang disampaikan,” pungkasnya.
Penulis : Meysa Afriska Dewi, Windiyanti Laily



Posting Komentar