mJHEzxukdj31fhzMIHmiGai4Yfakiv2Yjgl83GlR
Bookmark

Peringati Hari Kartini 2026, Perpustakaan Unugiri Gelar Talk Show Bersama Para Perempuan Inspiratif

Arusgiri.com, Bojonegoro – Perpustakaan Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) peringati momentum Hari Kartini dengan menggelar Talk Show bertajuk “Woman Campus in Kartini Days: Membaca Pesan Kartini Era Kini”. Acara berlangsung di Perpustakaan Unugiri, Selasa (21/04).

Indah Listiyorini dalam penyampaian materi (Foto: Shaula)

Wakil Bidang Kelembagaan Alumni dan Sumber Daya Manusia, Tsaqibul Fikri, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas keterbukaan perpustakaan yang tidak membeda-bedakan status sivitas akademika.

Menurutnya, kehadiran pembicara dari unsur mahasiswa hingga pendidik menunjukkan bahwa kesetaraan di Unugiri telah terwujud dengan sangat baik.

“Saya ucapkan terima kasih kepada perpustakaan yang ternyata tidak membedakan status sivitas akademika, mulai dari mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga tenaga pendidik. Hal ini sudah menggambarkan bahwa kesetaraan di Unugiri itu tidak terbentangkan”, ucapnya.

Kemudian acara talk show dibuka oleh pembawa acara, Nur Qoni’atul, Pustakawan Unugiri dengan pertanyaan, “Apa makna perjuangan Kartini di era sekarang, khususnya di lingkungan kampus?”

Indah Listiyorini, Dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) sekaligus Kepala Pusat Studi Hukum dan Gender Unugiri, menegaskan bahwa perjuangan Kartini saat ini telah beralih menjadi perjuangan kolektif. Ia menyebutkan bahwa jika dulu Kartini berjuang sendirian, maka saat ini adalah masa bagi seluruh perempuan untuk berjuang bersama dan meneruskan estafet tersebut.

"Perkawinan anak masih menjadi isu krusial yang dipicu kurangnya pendidikan. Padahal, pendidikan yang mumpuni bisa mengurangi angka kemiskinan hingga 80 persen. Kita harus sadar bahwa persiapan mental dan finansial itu wajib, karena perkawinan adalah perjudian terbesar sepanjang hidup,” tegas Indah.

Senada dengan hal itu, Lina Amiliya, Tenaga Kependidikan Pascasarjana Unugiri mengajak mahasiswa untuk lebih aktif dan berani mendobrak tekanan sosial. Ia menekankan agar mahasiswa tidak hanya menjadi “mahasiswa kupu-kupu” (kuliah-pulang), tetapi harus mampu memberikan dampak meski dari hal-hal kecil.

Di sisi lain, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unugiri, Lailatus Sa’adah, menyoroti pentingnya literasi bagi mahasiswa. Menurutnya, kebebasan yang sudah diperjuangkan Bunda Kartini harus diisi dengan kontribusi nyata, salah satunya dengan budaya membaca.

“Jangan hanya mengandalkan potongan informasi dari TikTok, kita harus bedah ulang dengan buku-buku di perpustakaan. Kita harus memaksakan diri untuk membaca, karena perjuangan memang dimulai dari hal yang berat,” ungkap Lailatus.

Diskusi ini ditutup dengan penekanan bahwa kesetaraan gender pada hakikatnya adalah tentang memanusiakan manusia. Di Unugiri, semua sivitas akademika dipandang setara tanpa membedakan suku, ras, maupun gender untuk bersama-sama berkontribusi bagi kemajuan pendidikan.

Salah satu peserta, Maya, mengungkapkan rasa senangnya terhadap kegiatan tersebut.

“Acara hari ini sangat bagus dan diselenggarakan dengan luar biasa. Materi yang dibahas pun beragam. Selain itu, kami sebagai perempuan juga diingatkan untuk membangun pola pikir yang kritis serta terus berkembang di mana pun berada,” pungkasnya.


Oleh: Shaula Kayla Nurainingsih dan Ana Nurfiatin

0

Posting Komentar