Arusgiri.com, Bojonegoro - Jenggala Bojonegoro bersama Bojonegoro Book Party dan beberapa organisasi mahasiswa menggelar acara nonton bersama (nobar) film dokumenter berjudul “Menolak Punah: Saat Semua Semakin Mudah dan Murah” karya sutradara Dandhy Laksono. Kegiatan yang dibarengi dengan diskusi publik terkait isu lingkungan tersebut berlangsung di Bojonegoro Creative Hub (BCH), pada Sabtu (16/5).
![]() |
| Nobar dan diskusi film “Menolak Punah” di BCH (Foto: Maryam) |
Kegiatan tersebut dihadiri oleh puluhan orang dari berbagai komunitas, organisasi mahasiswa, hingga masyarakat umum. Antusiasme para penonton turut meramaikan acara nobar dan diskusi film.
Pengedar Buku Jenggala Bojonegoro, M. Baharudin Romadhoni atau yang akrab disapa Rudi, mengungkapkan bahwa pemilihan film ini sengaja dipilih karena isu lingkungan saat ini yang sudah menjadi isu persoalan global.
“Kami memilih film Menolak Punah karena isu lingkungan hari ini bukan lagi persoalan kecil, tapi sudah menjadi isu global yang dampaknya dirasakan semua orang,” ujar Rudi.
Lebih lanjut, Rudi menjelaskan bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya kelompok tertentu saja.
“Lewat nobar dan diskusi ini, kami ingin membuka ruang obrolan bersama agar anak muda dan masyarakat lebih peka terhadap persoalan lingkungan di sekitar kita, sekaligus sadar bahwa menjaga alam bukan hanya tugas aktivis, tapi tanggung jawab bersama,” tambahnya.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) sekaligus perwakilan kolaborator acara, Lailatus Sa’adah, mengatakan bahwa pemutaran film ini merupakan langkah untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa.
“Jadi nobar film ini adalah sebuah langkah yang mana itu untuk membangun kesadaran khususnya kepada para mahasiswa dalam menjaga stabilitas perekonomian, menjaga kesehatan lingkungan, perlu kitanya mempertimbangkan apa yang seharusnya kita beli dan jangan dulu untuk kita beli,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu masyarakat umum yang hadir, Heru Andrean, mengungkapkan ketertarikannya terhadap isu yang diangkat dalam film tersebut.
“Saya tertarik karena saya memiliki concern yang sama dengan tema yang diangkat di film tersebut, yaitu terkait dengan limbah industri dan isu lingkungan, yang mana sudah menjadi permasalahan yang serius di negara ini,” ungkap Heru.
Menurutnya film tersebut membuka sudut pandangnya terhadap permasalahan lingkungan yang ada di sekitarnya.
“Yang paling berkesan adalah bagaimana film tersebut membuka sudut pandang bahwa dampak kerusakan lingkungan benar-benar dirasakan masyarakat secara langsung. Setelah ini saya ingin mencoba membiasakan diri untuk hidup lebih sadar lingkungan dalam hal-hal sederhana di kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.
Setelah acara nobar dan sesi diskusi selesai, seluruh peserta melakukan foto bersama sebagai penutup rangkaian kegiatan.
Reporter: Eka Pradana Kusuma dan Dewi Maryam



Posting Komentar