mJHEzxukdj31fhzMIHmiGai4Yfakiv2Yjgl83GlR
Bookmark

Bekali Mahasiswa Hadapi Hoaks

Arusgiri.com, Bojonegoro - Workshop Literasi Media dan Informasi (LMI) bertajuk “Digital Smart Generation: Menguatkan Literasi Media untuk Generasi Cerdas, Selektif, dan Produktif” sukses digelar oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arusgiri di Auditorium Fakultas Syariah dan Adab (FSA), Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) pada Minggu, (03/05). Kegiatan tersebut menghadirkan Joko Kuncoro, jurnalis Harian Bangsa dan Jawa Pos, sebagai pemateri utama.

Joko Kuncoro dalam penyampaian jawaban saat sesi tanya jawab seputar jenis hoaks (Foto: Ileny)

Dalam pemaparannya, Joko Kuncoro menegaskan bahwa hoaks merupakan “permainan” yang dirancang untuk memengaruhi persepsi publik. 

“Hoaks itu bukan sekadar informasi salah, tapi sering kali memang sengaja dibuat untuk menggiring opini dan memengaruhi cara berpikir masyarakat,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa penyebaran hoaks kerap meningkat pada isu-isu sensitif seperti bencana dan politik, termasuk menjelang pemilihan umum. 

“Biasanya saat momen-momen besar seperti pemilu atau bencana, hoaks meningkat drastis karena emosi publik sedang tinggi,” tambahnya. 

Bahkan, menurutnya, penyebaran hoaks banyak terjadi di media sosial karena pengguna cenderung langsung membagikan informasi tanpa proses verifikasi. “Masalahnya, banyak orang ingin jadi yang pertama membagikan, bukan yang paling benar,” ujarnya.

Workshop tersebut mengupas secara mendalam tiga bentuk utama penyimpangan informasi, yakni misinformasi, disinformasi, dan malinformasi. Misinformasi terjadi ketika informasi yang salah disebarkan tanpa niat jahat. Sebaliknya, disinformasi merupakan informasi palsu yang sengaja dibuat untuk menipu atau merugikan pihak lain. Adapun malinformasi adalah informasi yang sebenarnya benar, tetapi digunakan untuk menyerang individu maupun kelompok tertentu.

Peserta juga dikenalkan pada berbagai jenis hoaks yang sering beredar, mulai dari satire atau parodi, konten menyesatkan, hingga konten manipulatif. Salah satu contoh yang dibahas adalah kasus manipulasi foto prajurit TNI yang diedit untuk memicu opini publik, menunjukkan betapa mudahnya informasi dipelintir di era digital. 

Selain itu, pemateri menekankan pentingnya membedakan antara informasi media dan berita. Informasi media hanyalah potongan pesan awal, sedangkan berita merupakan hasil verifikasi yang telah melalui proses jurnalistik yang ketat. 

Sebagai bekal praktis, peserta diajarkan cara menguji validitas informasi, seperti memverifikasi sumber, mengecek keaslian gambar, serta mempertimbangkan manfaat informasi sebelum menyebarkannya. Prinsip utama yang ditekankan adalah: “Jika tidak benar dan tidak bermanfaat, jangan disebarkan.”

Salah satu peserta, Ana Maria Ulfa, mengungkapkan kesan positifnya terhadap kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa workshop tersebut memberikan wawasan yang luas mengenai pentingnya memahami dan menggunakan informasi secara bijak di era digital. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi saat ini, khususnya terkait maraknya hoaks dan penyalahgunaan media. Ia juga menilai pemateri mampu menyampaikan materi dengan jelas, mudah dipahami, dan santai.

Lebih lanjut, Ana Maria Ulfa berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin. “Semoga kegiatan workshop yang diadakan oleh UKM LPM Arusgiri seperti ini dapat terus berjalan agar semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya literasi media dan informasi, terutama bagi mahasiswa,” ungkapnya.


Penulis : Windiyanti Laily Nuraini, Ririt Rengganis

Posting Komentar

Posting Komentar