mJHEzxukdj31fhzMIHmiGai4Yfakiv2Yjgl83GlR
Bookmark

Dorong Budaya Menulis, BEM KM Unugiri Gelar Workshop Penulisan dan Publikasi Artikel Ilmiah Populer

Arusgiri.com, Bojonegoro – Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro bersama Rumah Literasi Mahasiswa menyelenggarakan Workshop Penulisan dan Publikasi Artikel Ilmiah Populer dengan tema “Meningkatkan Kompetensi, Membangun Budaya Publikasi” di Auditorium Fakultas Syariah dan Adab (FSA) Unugiri pada Sabtu, (7/3).

Usman Roin dalam penyampaian materi di Auditorium FSA (Foto: Dewi)

Kegiatan yang menghadirkan pemateri internal, Usman Roin, Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) Unugiri tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menulis serta mendorong tumbuhnya budaya publikasi karya ilmiah di kalangan mahasiswa. Workshop ini diikuti oleh 21 mahasiswa dari berbagai program studi.

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana, Bima Saputra menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh peserta yang telah hadir dan tetap antusias mengikuti kegiatan meskipun sedang menjalankan ibadah puasa.

“Terima kasih atas kehadirannya teman-teman, meski dalam keadaan puasa masih tetap semangat. Saya sangat mengapresiasi itu, karena tanpa kalian kegiatan ini tidak dapat berjalan lancar,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan selama kegiatan berlangsung serta berpesan agar peserta dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali ilmu dari pemateri.

“Ikuti sampai selesai. Silakan gali ilmunya dari beliau, pemateri kita ini pakar karya tulis ilmiah,” pesannya.

Pada kesempatan yang sama, Presiden BEM KM Unugiri, Lailatus Sa’adah, menekankan pentingnya menulis sebagai bentuk warisan intelektual yang dapat dikenang sepanjang waktu.

“Menulis adalah jejak langkah yang akan kita tinggalkan meski kita sudah tiada. Ketika tulisan kita dibaca, kita akan dikenang,” tuturnya.

Pres Laila, sapaan akrabnya, juga mengajak peserta untuk merefleksikan pentingnya menulis sebagai sarana mengabadikan gagasan.

“Pertanyaannya, kita mau abadi atau tidak? Semoga kalian bisa benar-benar memahami materinya dan jangan sungkan untuk bertanya,” harapnya.

Sebelum memasuki sesi materi, Usman Roin terlebih dahulu menekankan pentingnya membaca sebagai dasar utama dalam proses menulis.

“Dengan kita membaca, nanti akan ada banyak hal yang kita dapat. Dari membaca itulah ide-ide tulisan biasanya muncul,” ujarnya.

Di tengah berlangsungnya kegiatan, sempat terjadi pemadaman listrik yang menyebabkan perangkat seperti smart TV dan mikrofon tidak dapat digunakan. Namun hal tersebut tidak menghambat jalannya workshop. Usman telah menyiapkan alternatif dengan memanfaatkan personal blogger sebagai media untuk tetap menyampaikan materi kepada peserta.

Ia pun mengingatkan mahasiswa agar mampu memanfaatkan fasilitas yang ada dalam berkarya.

“Gunakan fasilitas yang ada untuk menciptakan sesuatu. Jangan hanya menggantungkan pada satu media. Kalau terjadi trouble, kita tetap bisa mencari cara lain,” pesannya.

Dalam sesi penyampaian materi, Usman membedah secara sistematis mengenai penulisan artikel ilmiah populer, mulai dari pengertian, karakteristik, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan, struktur artikel, hingga cara mempublikasikannya di media massa.

Ia menjelaskan bahwa istilah ilmiah populer digunakan karena tulisan tetap berbasis pengetahuan, tetapi disampaikan dengan bahasa yang lebih ringan agar mudah dipahami oleh masyarakat luas.

“Tuangkan ide lewat tulisan, publikasikan, lalu dibaca dan dinikmati banyak orang,” tuturnya.

Menurut Usman, struktur artikel ilmiah populer secara umum terdiri dari judul, pendahuluan, isi atau pembahasan, serta kesimpulan, dan tidak lupa mencantumkan identitas penulis.

Di tengah penyampaian materi, Meysa Afriska Dewi, mahasiswi Prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES), mengajukan pertanyaan mengenai perbedaan artikel ilmiah populer dengan opini.

“Hampir sama dengan opini, tetapi dalam artikel ilmiah populer penggunaan kata ‘saya’ lebih dibatasi. Selain itu, dalam opini penulis bisa lebih bebas dan tidak selalu harus ada simpulan,” terang Usman.

Untuk memudahkan proses menulis, Usman juga memperkenalkan metode sederhana C-B-T-K (Cari Ide – Buat Outline – Tulis dengan Freewriting – Kirim). Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menunda ide yang muncul.

“Kalau ada ide muncul, segera ditulis, minimal disimpan di note HP,” ucapnya.

Pada sesi tanya jawab berikutnya, Ali dari Prodi Teknik Mesin (TM) menanyakan penggunaan kata “sinau” dalam contoh artikel yang dipaparkan oleh pemateri.

“Kenapa yang digunakan kata ‘sinau’ bukan ‘belajar’, sementara di judulnya menggunakan kata belajar?” tanyanya.

Menanggapi hal tersebut, Usman menjelaskan bahwa dalam kebahasaan jurnalistik terdapat fungsi adaptif, yakni menyesuaikan bahasa dengan konteks dan pembaca.

“Penggunaan kata ‘sinau’ itu agar kosakata menjadi lebih luas sekaligus mengenalkan bahasa Jawa kepada pembaca,” jelasnya.

Dari segi teknis penulisan, artikel ilmiah populer umumnya ditulis maksimal dua halaman kertas A4 (kuarto), sekitar 700 kata atau 5.261 karakter dengan spasi 1,5. Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan ketentuan teknis sebelum mengirimkan tulisan ke media.

“Perhatikan hal teknis agar tulisan kalian tidak ditolak redaktur,” imbaunya.

Dalam praktiknya, Usman juga mencontohkan secara langsung cara menulis, mengedit melalui email, hingga mengirimkan tulisan ke media massa. Ia menyebut beberapa media lokal di Bojonegoro seperti Blok Bojonegoro, Radar Bojonegoro, Jagat Sembilan, dan Jurnaba sebagai contoh tujuan pengiriman artikel.

Pada sesi akhir, peserta diminta untuk mempraktikkan penulisan artikel ilmiah populer dengan tema seputar puasa, lebaran, dan fenomena sosial lainnya. Selain itu, peserta juga diminta menyampaikan kesan dan pesan setelah mengikuti kegiatan.

Salah satu peserta, Anis Rosyidah, mengaku senang dapat mengikuti workshop tersebut.

“Sebuah kesempatan luar biasa bisa bergabung dengan pecinta literasi. Banyak hal dan pengalaman yang saya dapatkan,” ungkap mahasiswi Prodi Bahasa dan Sastra Arab (BSA).

Workshop ini menjadi program kerja (proker) terakhir Rumah Literasi Mahasiswa dalam periode kepengurusan saat ini. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara pemateri, panitia, dan seluruh peserta.


Penulis: Meysa Afriska Dewi, Mahasiswi Prodi Hukum Ekonomi Syariah.
Posting Komentar

Posting Komentar