Arusgiri.com, Bojonegoro – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arusgiri Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro menggelar Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) bertema “Menelisik Fakta, Menulis Perubahan: Membangun Jurnalis Muda yang Kritis dan Adaptif di Era Digital” di Ruang Smartclass Unugiri pada Senin, (29/6). Salah satu materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah Jurnalisme Investigasi dengan narasumber Nurika Manan.
![]() |
| Nurika Manan dalam penyampaian materi Berita Investigasi (Foto: Maryam) |
Dalam pemaparannya, Nurika menjelaskan bahwa jurnalisme investigasi merupakan proses peliputan yang dilakukan secara sistematis, mendalam, dan berbasis verifikasi untuk mengungkap fakta-fakta yang berkaitan dengan kepentingan publik. Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar jurnalisme investigasi, tahapan investigasi, metode penelusuran, manajemen risiko, keamanan holistik, hingga pentingnya kolaborasi dalam pelaksanaan liputan.
Menurutnya, keberhasilan sebuah liputan investigatif sangat bergantung pada perencanaan yang matang. Seorang jurnalis dituntut memiliki kemampuan analisis, ketelitian, serta strategi penelusuran yang baik agar mampu mengungkap persoalan secara akurat dan bertanggung jawab.
“Jurnalisme investigasi membutuhkan proses yang sistematis, mendalam, serta berbasis verifikasi. Perencanaan menjadi aspek yang sangat penting karena dapat menentukan arah dan keberhasilan investigasi yang dilakukan,” jelas Nurika Manan.
Selain membahas konsep dasar, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai metode penelusuran, seperti money trail, document trail, dan people trail, yang menjadi bagian penting dalam proses investigasi. Nurika turut menekankan pentingnya manajemen risiko serta keamanan holistik yang meliputi aspek fisik, digital, dan psikososial selama proses peliputan berlangsung.
Pelatihan tidak hanya diisi dengan penyampaian materi, tetapi juga menghadirkan sesi praktik dan diskusi interaktif. Pada sesi tersebut, peserta diajak menyusun perencanaan liputan investigasi, menentukan sudut pandang pemberitaan, menyusun daftar narasumber, hingga melakukan simulasi penelusuran informasi berdasarkan studi kasus yang telah disiapkan.
Nurika juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam jurnalisme investigasi. Menurutnya, kerja sama antarsesama jurnalis maupun berbagai pihak dapat memperkuat proses investigasi sekaligus meminimalkan risiko yang mungkin dihadapi selama peliputan.
“Ketika jurnalis melakukan investigasi sendirian untuk meminta pertanggungjawaban kekuasaan, tantangannya sangat besar. Karena itu, bekerja dan berkolaborasi dengan lebih banyak jurnalis memungkinkan kita menyusun strategi yang lebih baik dan menekan risiko,” ungkapnya.
Salah satu peserta, Fitriyatun Nikmah, mengaku memperoleh pengalaman dan wawasan baru melalui materi yang disampaikan. Menurutnya, kombinasi antara penyampaian materi, praktik, dan diskusi membuat peserta lebih mudah memahami proses investigasi dalam dunia jurnalistik.
“Pelatihan ini memberikan banyak wawasan baru bagi saya mengenai jurnalisme investigasi. Materi yang disampaikan sangat menarik, ditambah adanya sesi praktik dan diskusi yang membuat kami lebih mudah memahami proses investigasi dalam dunia jurnalistik,” ujarnya.
Penulis: Athiatul Maula, Meysa Afriska Dewi



Posting Komentar