Arusgiri.com, Bojonegoro – Rendahnya literasi keuangan pada anak menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian sejak dini. Menjawab kebutuhan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 42 Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro menggelar program Sadar Keuangan (SAKU) di SDN Turi II, Jumat (7/8). Melalui edukasi yang dikemas secara kreatif dan menyenangkan, siswa kelas 1, 2, dan 3 diajak memahami pentingnya menabung, mengenali perbedaan kebutuhan dan keinginan, serta membangun kebiasaan mengelola uang secara bijak sejak usia dini.
![]() |
| Foto Bersama Siswa Turi II (Foto : Alfian) |
Di tengah perkembangan era digital dan budaya konsumtif yang semakin mudah dijangkau anak-anak, kemampuan mengelola keuangan menjadi keterampilan dasar yang perlu ditanamkan sejak bangku sekolah dasar. Melalui program ini, mahasiswa KKN berupaya menghadirkan edukasi finansial yang sederhana namun aplikatif agar mudah dipahami oleh peserta didik.
Ketua KKN 42 Unugiri, Nur Sholiqin, menjelaskan bahwa literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung uang, tetapi juga membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat.
“Kami ingin mengenalkan kepada anak-anak bahwa menabung bukan hanya menyimpan uang, tetapi juga belajar mengatur keinginan, menentukan prioritas, dan mempersiapkan masa depan,” ujarnya.
Dalam sesi sosialisasi, mahasiswa KKN menjelaskan pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan, menyisihkan sebagian uang saku untuk ditabung, serta manfaat menabung secara rutin untuk mewujudkan cita-cita. Materi disampaikan melalui metode interaktif yang melibatkan diskusi, permainan edukatif, dan tanya jawab sehingga suasana belajar terasa lebih hidup dan menyenangkan.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan celengan dari toples bekas. Anak-anak diberikan kebebasan menghias celengan menggunakan berbagai kertas berwarna sesuai kreativitas masing-masing. Pendekatan ini dipilih agar siswa tidak hanya memahami konsep menabung secara teori, tetapi juga memiliki sarana nyata untuk mulai menerapkannya di rumah.
Menurut Sholiqin, penggunaan barang bekas sebagai bahan utama pembuatan celengan juga memiliki nilai edukasi tersendiri.
“Kami ingin menggabungkan literasi keuangan dengan pendidikan lingkungan. Anak-anak belajar bahwa barang bekas masih bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai guna,” katanya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Siswa dengan penuh semangat menghias celengan mereka dan menuliskan target tabungan sebagai bentuk motivasi untuk mulai menyisihkan uang saku secara rutin.
Keceriaan semakin terasa ketika mahasiswa mengadakan sesi kuis sederhana seputar kebiasaan menabung dan penggunaan uang saku. Para siswa berlomba-lomba menjawab pertanyaan yang diberikan. Respons aktif dari peserta menunjukkan bahwa materi yang disampaikan mampu menarik perhatian sekaligus meningkatkan pemahaman mereka mengenai pengelolaan keuangan dasar.
Sebagai penutup, seluruh peserta diajak berfoto bersama menggunakan pigura bertuliskan “Siap Menabung”. Momen tersebut menjadi simbol komitmen anak-anak untuk mulai membangun kebiasaan menabung dalam kehidupan sehari-hari. Hasil karya celengan yang mereka buat juga dibawa pulang sebagai media pembelajaran sekaligus pengingat untuk terus menyisihkan sebagian uang saku.
Penulis: Riska Rifanayatus Shoidatin, Meysa Afriska Dewi



Posting Komentar