Arusgiri.com, Bojonegoro - Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 42 Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro selama satu bulan di Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengabdikan diri. Interaksi selama menjalankan berbagai kegiatan juga menjadi pengalaman belajar bersama antara mahasiswa dan masyarakat.
![]() |
| Foto Bersama DPL dan Tokoh Masyarakat Desa Turi (Foto: Adib) |
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Desa Turi, Lilik Ernawati, dalam acara malam puncak Pentas Seni sekaligus penutupan KKN 42 Unugiri di Balai Desa Turi, Senin (24/8).
Lilik mengatakan, Pemerintah Desa Turi berterima kasih karena telah dipercaya menjadi lokasi pelaksanaan KKN. Menurutnya, berbagai kegiatan yang dilakukan mahasiswa selama berada di desa turut memberikan pengalaman dan pembelajaran bagi masyarakat.
“Kami berterima kasih kampus Unugiri sudah mempercayakan Desa Turi. Kami mohon maaf kalau dari desa tidak bisa memberikan yang lebih. Justru kami banyak belajar dari KKN,” ujar Lilik.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa agar pengalaman selama berada di Desa Turi tidak berhenti setelah masa KKN berakhir. Menurutnya, apa yang diperoleh selama berinteraksi dengan masyarakat dapat menjadi bekal untuk kehidupan mahasiswa ke depan.
“Jangan lupa sama orang tua. Jangan hanya dibuat ajang mencari bakat, tetapi pikirkan apa yang harus kita manfaatkan untuk masa yang akan datang,” tuturnya.
Malam penutupan tersebut sekaligus menjadi momen perpisahan antara mahasiswa KKN 42 dan masyarakat Desa Turi. Meski demikian, suasana acara berlangsung hangat dan tidak sekadar diisi dengan rangkaian seremoni.
Anak-anak Desa Turi turut ambil bagian dengan menampilkan sejumlah pertunjukan seni. Mereka membawakan Tari Saman, Tari Semut, Kun Anta, Wonderland, hingga pertunjukan Glow in The Dark. Penampilan tersebut mendapat sambutan dari warga yang hadir.
Koordinator Desa KKN 42, Nur Sholiqin, mengaku tidak menyangka waktu pengabdian di Desa Turi berjalan begitu cepat. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah desa dan masyarakat yang selama ini menerima mahasiswa dengan baik.
“Alhamdulillah kita bisa berkumpul di acara malam puncak pentas seni dan penutupan KKN. Tidak terasa sudah sampai penutupan. Sebenarnya kami senang berada di desa ini karena banyak yang bisa digali,” katanya.
Sholiqin juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama mahasiswa menjalankan kegiatan di Desa Turi terdapat perkataan maupun tindakan yang kurang berkenan.
Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) II KKN 42 Unugiri, Taufik Azhary, mengatakan waktu satu bulan memang belum cukup untuk memberikan perubahan besar bagi sebuah desa. Namun, ia berharap kegiatan yang telah dilakukan dapat menjadi awal bagi keberlanjutan program di masa mendatang.
“Dalam kurun waktu satu bulan mungkin belum memberikan dampak yang signifikan, tetapi kami berharap itu menjadi langkah awal. Apa yang didapat mahasiswa selama KKN menjadi pembelajaran berharga dan dapat diteruskan di lingkungan masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.
Taufik juga mengapresiasi Pemerintah Desa Turi dan masyarakat yang telah membantu serta membimbing mahasiswa selama menjalankan pengabdian.
Ia berharap mahasiswa tidak hanya membawa pulang pengalaman dari Desa Turi, tetapi juga mampu mengambil peran ketika kembali ke lingkungan masing-masing.
“Harapan saya, anak-anak bisa menjadi pelopor dan penggerak pembangunan masyarakat di mana pun kalian berada,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, penutupan KKN secara simbolis ditandai dengan penyerahan kenang-kenangan berupa vandel kepada Pemerintah Desa Turi. Mahasiswa juga menayangkan video profil Desa Turi dan after movie yang merangkum kegiatan mereka selama satu bulan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan hadiah lomba dan ditutup dengan foto bersama. Setelah satu bulan menjalankan berbagai kegiatan bersama warga, KKN 42 Unugiri akhirnya menutup rangkaian pengabdiannya di Desa Turi.
Penulis : Meysa Afriska Dewi



Posting Komentar