mJHEzxukdj31fhzMIHmiGai4Yfakiv2Yjgl83GlR
Bookmark

KKN 42 Unugiri Dorong Pemanfaatan Bonggol Jagung untuk Budidaya Jamur di Desa Turi

Arusgiri.com, Bojonegoro – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 42 Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) menggelar kegiatan Sosialisasi Pemanfaatan Bonggol Jagung sebagai Media Budidaya Jamur untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dengan tema “Penguatan Ekonomi Kreatif dan UMKM melalui Pemanfaatan Bonggol Jagung sebagai Media Budidaya Jamur” di Balai Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (20/8).

Sosialisasi Pemanfaatan Bonggol Jagung
(Foto: Iqma)

Kegiatan ini merupakan program utama KKN 42 Unugiri yang berfokus pada pemanfaatan limbah pertanian, khususnya bonggol atau janggel jagung, agar memiliki nilai guna dan berpotensi menjadi sumber tambahan pendapatan bagi masyarakat. Berdasarkan hasil observasi mahasiswa KKN, masyarakat Desa Turi banyak membudidayakan tanaman jagung sehingga menghasilkan bonggol jagung yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathon. Acara kemudian dilanjutkan dengan laporan Koordinator Desa (Kordes) KKN 42, sambutan Sekretaris Desa Turi, serta doa penutup sebelum memasuki kegiatan inti berupa sosialisasi dan praktik pembuatan jamur berbasis bonggol jagung.

Dalam laporannya, Kordes KKN 42 Unugiri, Nur Sholiqin, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah meluangkan waktu untuk hadir.

“Alhamdulillah dapat berkumpul di acara pagi ini. Mewakili teman-teman, kami meminta maaf sebanyak-banyaknya dan terima kasih sudah hadir serta mau berkumpul di sini,” ujarnya.

Nur Sholiqin menjelaskan bahwa gagasan program tersebut muncul setelah mahasiswa melakukan observasi terhadap potensi pertanian Desa Turi.

“Ketika observasi, banyak yang menanam jagung. Dari bekas janggel bisa dimanfaatkan. Bisa menambah pemasukan dengan diolah menjadi jamur,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Turi, Lilik Ernawati, menyampaikan dukungan terhadap kegiatan yang diinisiasi mahasiswa KKN. Ia menjelaskan bahwa dirinya turut mengusulkan agar sosialisasi pemanfaatan bonggol jagung menjadi jamur dapat dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan masyarakat di desa.

“Yang pertama sosialisasi, yang kedua arisan, dan yang ketiga penerimaan insentif,” tuturnya.

Dalam sambutannya, Lilik juga mengingatkan masyarakat, khususnya para ketua lingkungan, mengenai pentingnya ketelitian dalam administrasi kependudukan. Menurutnya, data pada dokumen seperti akta kelahiran, kartu keluarga, KTP, dan ijazah harus diperiksa serta dipastikan sesuai karena akan berkaitan dengan berbagai keperluan masyarakat, termasuk pekerjaan, pernikahan, kelahiran, dan kematian.

“Kalau mau nikah, setelah lahiran, meninggal, di perdata harus sinkron. Jangan main-main dengan perdata karena urusannya di belakang akan ribet jika salah data,” pesannya.

Selain itu, Lilik juga mengimbau masyarakat untuk menanam bambu di sekitar reflektor jalan yang sebelumnya diberikan oleh mahasiswa KKN, khususnya di wilayah RT 8 dan sejumlah titik tikungan. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk antisipasi terhadap kondisi lingkungan, terutama saat musim kemarau panjang.

Di akhir sambutannya, Lilik berpesan kepada mahasiswa KKN agar pengalaman selama berada di Desa Turi dapat memberikan manfaat.

“Semoga pengalaman yang didapatkan di Desa Turi ini bermanfaat. Pesan saya, jadilah orang yang bermanfaat, jangan memanfaatkan orang,” pesannya.

Memasuki kegiatan inti, materi mengenai pembuatan jamur dari bonggol jagung disampaikan oleh Sholikul Amin dengan dipandu moderator Ahmad Zahniar Alfiansyah. Materi tersebut menjelaskan bahwa bonggol jagung dapat dimanfaatkan kembali sebagai media budidaya berbasis limbah pertanian. Dalam panduan praktik, bonggol jagung difermentasi dengan bantuan ragi tape, sementara dedak atau bekatul dan urea digunakan sebagai bahan pendukung. Kelembapan media, kebersihan, kondisi tempat yang teduh, serta perawatan selama proses inkubasi menjadi bagian penting dalam proses budidaya.

Dalam praktiknya, media dibuat menggunakan bonggol jagung kering, ragi tape, urea, dedak atau bekatul, dan air bersih. Bonggol terlebih dahulu direndam selama kurang lebih 24 jam agar menyerap air secara merata. Selanjutnya, ragi tape dihaluskan dan dicampurkan dengan dedak serta urea sebelum ditata bersama bonggol jagung menjadi lapisan media.
Setelah media selesai disusun, dilakukan penyiraman hingga kondisi lembap tanpa tergenang. Media kemudian ditutup menggunakan terpal atau plastik dan ditempatkan di lokasi teduh selama proses fermentasi. Perawatan dilakukan dengan menjaga kelembapan dan memberikan oksigen secara berkala.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung yang melibatkan masyarakat. Antusiasme peserta terlihat dari adanya pertanyaan selama sesi praktik. Salah satunya disampaikan Kepala Dusun Ngampel, yang menanyakan mengenai lama pertumbuhan jamur dan apakah media yang sama dapat digunakan kembali setelah beberapa kali panen.

Menanggapi pertanyaan tersebut, pemateri menjelaskan bahwa pertumbuhan dan hasil jamur akan mengalami perubahan setelah beberapa kali panen. Pada sekitar hari ke-14 hingga ke-15, pertumbuhan jamur tidak lagi maksimal seperti pada awal panen sehingga diperlukan media baru untuk memperoleh hasil yang lebih optimal. Hal tersebut sejalan dengan materi bahwa jamur mulai tumbuh sekitar hari ke-10 hingga ke-14 dan dapat dipanen sesuai kondisi pertumbuhannya.

Melalui kegiatan tersebut, KKN 42 Unugiri berharap masyarakat Desa Turi tidak lagi memandang bonggol jagung hanya sebagai limbah pertanian, tetapi sebagai bahan yang dapat diolah menjadi media budidaya yang memiliki nilai guna. Selain budidaya, jamur yang dihasilkan juga berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk olahan seperti jamur crispy, sambal, serta tumis atau oseng, sekaligus dipasarkan melalui media sosial, warung terdekat, pedagang sayur keliling, maupun pemasaran dari mulut ke mulut.

Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong kreativitas masyarakat Desa Turi dalam mengolah potensi lokal, mengurangi limbah pertanian, serta membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif dan UMKM berbasis sumber daya yang tersedia di lingkungan desa.

Penulis: Meysa Afriska Dewi
0

Posting Komentar