Arusgiri.com, Bojonegoro - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Syariah dan Adab (FSA) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) selenggarakan seminar nasional bertajuk “Pelecehan Seksual dan Bias Gender: Menguji Konsistensi Hukum di Era Digital” di Auditorium Hasyim Asy’ari, Rabu (06/05).
![]() |
| Seminar Nasional BEM FSA Unugiri 2026 (foto: Winda) |
Kegiatan yang dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai program studi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya memahami isu pelecehan seksual dan bias gender, khususnya di era digital yang semakin berkembang pesat. Seminar ini juga menjadi ruang edukasi dan diskusi terkait bagaimana hukum memandang kasus-kasus pelecehan seksual dan ketidakadilan gender di media sosial maupun kehidupan sehari-hari.
Dalam sambutannya, Dekan FSA, Agus Sholahuddin Shiddiq menyampaikan bahwa tema yang diangkat merupakan persoalan yang sangat sensitif namun penting untuk dipahami bersama.
“Tema ini sebenarnya sangat sensitif. Kita sering menganggap sesuatu sebagai bagian dari pelecehan ketika terjadi di dunia nyata, tetapi kita lupa bahwa hal serupa juga sering dilakukan di media sosial. Banyak tindakan atau ucapan yang tidak disadari ternyata termasuk bentuk pelecehan maupun bias gender,” tuturnya.
Agus juga menjelaskan bahwa bias gender sering muncul melalui cara pandang masyarakat terhadap laki-laki dan perempuan.
“Contohnya, ketika laki-laki terlihat pintar dan aktif, ia dianggap visioner. Namun ketika perempuan memiliki sikap yang sama, justru sering disebut ambisius. Perbedaan cara pandang inilah yang termasuk dalam kategori bias gender,” jelasnya.
Selain itu, ia berharap mahasiswa dapat menjadi agen informasi dan edukasi di tengah masyarakat.
“Jadilah mahasiswa yang mampu menjadi agen informasi hari ini, karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mengedukasi masyarakat,” pesannya.
Pada kesempatan yang sama, Dinda Oktavia Bulan Fitriani, Ketua Pelaksana seminar menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa untuk menghadirkan ruang diskusi yang aman dan edukatif mengenai isu sosial yang masih sering dianggap tabu.
“Kami berharap seminar ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu meningkatkan kesadaran mahasiswa untuk lebih peduli terhadap isu pelecehan seksual dan bias gender. Mahasiswa harus mampu menjadi pelopor perubahan serta menciptakan lingkungan kampus yang aman, adil, dan saling menghargai,” ujarnya.
Pada sesi pertama, Galuh Widitya Qomaro selaku narasumber menyampaikan bahwa keadilan tidak selalu berarti memperlakukan semua orang dengan cara yang sama.
“Jika semua diperlakukan sama, padahal kondisinya tidak sama, apakah itu adil? Keadilan bukan menyamakan semua orang, tetapi memastikan bahwa pihak yang paling rentan tidak ditinggalkan oleh hukum,” ujarnya.
Sementara itu, pada sesi kedua, Nafidhatul Himah dari Aliansi Perlindungan Perempuan dan Anak menjelaskan bahwa bias gender merupakan bentuk keberpihakan terhadap salah satu gender yang menimbulkan ketidakadilan.
“Bias gender adalah kondisi, tindakan, atau pandangan yang memihak salah satu gender, biasanya laki-laki, sehingga menimbulkan perlakuan tidak adil, diskriminasi, dan stereotip negatif terhadap gender lainnya. Bias ini sering terjadi secara tidak sadar, tetapi dampaknya sangat nyata dalam kehidupan sosial, pekerjaan, maupun pendidikan,” paparnya.
Salah satu peserta, Windiyanti mengaku seminar tersebut memberikan banyak wawasan baru terkait pentingnya memahami isu gender dan pelecehan seksual di era digital.
“Materi yang disampaikan sangat membuka wawasan saya tentang pentingnya menjaga sikap dan ucapan, baik di dunia nyata maupun media sosial. Seminar ini juga membuat saya lebih memahami bahwa bias gender masih sering terjadi di sekitar kita tanpa disadari,” ungkapnya.
Peserta lain, Diah Dwi Riski juga menyampaikan bahwa seminar tersebut sangat bermanfaat bagi mahasiswa sebagai generasi muda.
“Acara ini sangat edukatif dan relevan dengan kondisi saat ini. Saya berharap kegiatan seperti ini lebih sering diadakan agar mahasiswa semakin sadar pentingnya menghargai sesama dan berani melawan tindakan pelecehan seksual,” harapnya.
Acara kemudian ditutup dengan penyerahan cinderamata, foto bersama dan pembagian hadiah bagi para pemenang juara dalam perlombaan yang diadakan sebelumnya.
Penulis: Windawati & Devi Wahyuni



Posting Komentar