mJHEzxukdj31fhzMIHmiGai4Yfakiv2Yjgl83GlR
Bookmark

AJI Bojonegoro Tampung Aspirasi Pers Mahasiswa Lewat Jagongan Pers

Arusgiri.com, Bojonegoro - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro menggelar kegiatan Jagongan Pers dalam rangka memperingati World Press Freedom Day (WPFD) 2026 dengan mengusung tema “Merawat Kemerdekaan Pers untuk Publik”. Kegiatan ini berlangsung di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Srawung Makmur, Desa Trucuk, pada Senin (4/5).

Jagongan Pers di TPS 3R Srawung Makmur, Trucuk (Foto: Eka)

Kegiatan yang berada dalam nuansa lingkungan tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Trucuk, organisasi profesi, organisasi mahasiswa, masyarakat sipil, komunitas, hingga Pers Mahasiswa dari wilayah Bojonegoro-Tuban. 

Kepala Desa Trucuk, Sunoko, dalam sambutannya menjelaskan alasan pemberian nama tempat kegiatan tersebut. 

“Nama Srawung Makmur itu karena kita sering srawung (kumpul), kalau kita kumpul, kita juga makmur. Kita ngumpul itu orangnya, juga sampahnya. Jadi, kita kasih nama Srawung Makmur itu supaya ngumpul semuanya,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang berbeda, selama sesi diskusi berlangsung, beberapa perwakilan Pers Mahasiswa turut menyampaikan beberapa persoalan yang sering mereka hadapi saat ini. 

Hanum dari LPM Stebia menjelasakan, walaupun mereka memiliki latar belakang pondok pesantren yang segala sesuatunya harus terkontrol namun mereka tetap ingin bersuara seperti kampus-kampus lainnya.

“Kita itu mahasiswa, ingin seperti kampus-kampus yang lainnya, ingin bersuara, bisa menyampaikan argumen kita. Tapi di sisi lain itu semua harus terkontrol karena kita memiliki background pesantren,” ungkapnya.

Menanggapi adanya persoalan tersebut, Ketua AJI Bojonegoro M. Suaeb, menyarankan agar mahasiswa membangun ulang persepsi yang ada.

“Narasi membangun persepsi, persepsi ini coba dibedakan secara ulang. Kalau presepsinya ini sudah benar maka akan menjalankan dengan benar, kalau persepsinya salah kita jadikan yang salah,” jelasnya.

Sementara itu, Pindy dari LPM ISTeK ICsada menjelaskan bahwa beberapa persoalan membuat mereka seperti kehilangan arah. “Minat anak sekarang menurun dalam organisasi, jadi kita seperti kurang arah,” ujarnya.

Menanggapi hal tersbut, M. Suaeb menekankan agar mereka lebih berfokus pada karya jurnalistik yang sesuai dengan keahlian kampusnya.

“Bagaimana caranya website kalian itu menjadi rujukan tentang sains dan teknologi, menyambung sesuai dengan keahliannya. Fokusnya tentang karya jurnalistik yang dihasilkan,” pungkasnya.

Setelah sesi diskusi selesai, seluruh pihak melakukan foto bersama menandai berakhirnya kegiatan Jagongan Pers dalam rangka World Press Freedom Day (WPFD) 2026.


Penulis: Eka Pradana Kusuma (Mahasiswa HES Unugiri)
Posting Komentar

Posting Komentar