mJHEzxukdj31fhzMIHmiGai4Yfakiv2Yjgl83GlR
Bookmark

Peringati Hari Buku Nasional 2026, UKMP-GC Ajak Generasi Muda Kaya Literasi

Arusgiri.com, Bojonegoro – Unit Kegiatan Mahasiswa Penalaran dan Penulisan Griya Cendekia (UKMP-GC) sukses menggelar kegiatan diskusi dan bedah buku bertajuk “Book Insight: Dari Membaca, Lahir Generasi Muda Kaya Literasi” di Auditorium Gedung Fakultas Syari’ah dan Adab (FSA), Sabtu (4/4).

Diskusi dan bedah buku di Auditorium FSA (Foto: Fitri)

Ketua UKMP-GC, Alyssa Putri Adianty, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali nalar kritis mahasiswa, memperluas wawasan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap dunia literasi dan kepenulisan.

“Forum ini bertujuan untuk memantik kembali nalar kritis, memperkaya wawasan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap dunia kepenulisan,” ujarnya.

Sementara itu, Pembina UKMP-GC, Usman Roin, berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi seremonial semata, tetapi benar-benar mampu mewujudkan semangat literasi di kalangan generasi muda sesuai dengan tema yang diusung.

“Melalui momentum peringatan Hari Buku Nasional ini, kami berharap kegiatan Book Insight dapat melahirkan generasi muda yang kaya literasi serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai membaca dan menulis dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.

Acara ini menghadirkan dua pemateri dengan karya yang berbeda genre. Pemateri pertama, Siti Rahmawati, membedah novel karyanya yang berjudul “Dua Bulan Setelah Hujan Bulan Juni”. Novel tersebut mengisahkan seorang pemuda bernama Abyan Athar yang menyembunyikan penyakit serius yang dideritanya.

Melalui kisah tersebut, penulis yang juga merupakan guru di Raudhatul Athfal (RA) Hidayatul Mubtadiin Mojoagung mengajak pembaca untuk tidak selalu memandang perpisahan sebagai sesuatu yang menyedihkan. Sebaliknya, cerita ini menghadirkan sudut pandang bahwa keikhlasan dapat melahirkan akhir yang indah.

“Ending-nya bukan sekadar sedih, tetapi bagaimana semua tokoh bisa menerima dengan ikhlas apa yang terjadi,” jelasnya.

Setelah jeda ishoma, sesi kedua dilanjutkan oleh Firda Rizka Rachma Wahdani yang membedah buku nonfiksi berjudul “Pendidikan Indigenous Indonesia”. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa konsep pendidikan indigenous lahir sebagai respons terhadap sistem pendidikan modern yang cenderung mengabaikan nilai-nilai budaya lokal.

Firda juga mengungkapkan kegelisahannya terhadap fenomena generasi Z yang mulai menjauh dari budaya sendiri dan lebih tertarik pada budaya luar, seperti Korean Wave.

“Sejak S1, saya sudah memiliki kegelisahan terhadap Gen Z yang mulai lupa membumikan budaya sendiri karena lebih mencintai budaya luar,” ungkapnya.

Selain itu, ia mendorong mahasiswa untuk mulai menulis dan memanfaatkan platform digital sebagai sarana pengembangan diri.

“Jangan khawatir, kita hidup di era digital. Mulailah dari menjadi pembaca, kemudian berkembang menjadi penulis. Tidak hanya menikmati karya, tetapi juga bisa mendapatkan manfaat, termasuk secara ekonomi, dari tulisan,” tambahnya.

Kegiatan ini dipandu oleh Alfiana selaku pembawa acara yang mengarahkan jalannya acara dari awal hingga akhir dengan tertib dan interaktif.

Salah satu peserta, Fitriyatun Nikmah, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut karena memberikan banyak wawasan baru.

“Saya merasa kegiatan ini sangat bermanfaat, terutama dalam menambah wawasan dan memotivasi saya untuk mulai menulis. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus diadakan,” pungkasnya.


Penulis : Shaula Kayla Nurainingsih & Fitriyatun Nikmah dari Prodi Hukum Keluarga Islam
Posting Komentar

Posting Komentar